Catatan: Tulisan ini aku tulis dengan gaya penulisan lamaku — mungkin terasa sedikit berbeda dari tulisan-tulisan lain di blog ini. Aku sengaja mempertahankannya untuk menjaga rasa dan napas dari karya sebelumnya, “Bangku Cadangan.”
Kadang waktu berjalan begitu cepat, dan kita merasa masih saja berada di tempat yang sama. Kita tumbuh, bertambah usia, menimba banyak hal, tapi pandangan kita tetap tertuju ke lapangan yang sama: hijau, ramai, penuh sorak-sorai. Namun kali ini kita duduk di bangku yang berbeda.
Dulu aku pernah menulis tentang “Bangku Cadangan”. Tentang masa-masa ketika kita merasa Tuhan menahan kita di luar permainan. Kini, bertahun-tahun kemudian, aku sadar bahwa Tuhan yang sama yang dulu membuat kita menunggu, kini memanggil kita untuk bergerak lagi. Mungkin bukan di posisi yang sama, mungkin bukan di permainan yang sama, tapi tetap di dalam rencana-Nya.
Seiring berjalannya waktu, lapangan hidup berubah. Rumputnya bisa lebih licin, aturannya bisa lebih rumit, bahkan pemainnya bisa jauh lebih muda dan lebih cepat. Tapi Tuhan tetap Pelatih yang sama. Ia tidak pernah kehilangan arah permainan. Ia tahu kapan harus menahanmu di pinggir, kapan harus memanggilmu masuk, dan kapan harus mengganti seluruh formasi untuk memenangkan pertandingan.
Dan di situlah sering kali masalahnya. Kita seringkali tidak siap dengan “lapangan yang baru.” Ketidaksiapan itu bisa lahir dari banyak hal, mungkin karena kehilangan kenyamanan, mungkin karena takut gagal, atau karena kita masih terikat dengan cara lama yang dulu terasa berhasil. Bentuknya bisa bermacam-macam: menunda langkah, banyak alasan, atau sekadar pura-pura sibuk agar tak perlu menghadapi kenyataan bahwa kita memang harus mulai lagi dari awal. Mungkin kita merasa tidak cocok, mungkin kita menolak karena terlalu asing. Tapi justru di situlah tantangannya: bagaimana menjadi taat, bahkan ketika peranmu berubah. Karena yang diukur bukan seberapa hebat kamu bermain, tapi seberapa dalam kamu percaya bahwa Pelatihmu tahu yang terbaik.
Bagi yang hari ini sedang belajar menyesuaikan diri di tempat baru, pekerjaan baru, atau bahkan musim hidup yang benar-benar berbeda, tulisan ini untukmu. Jangan takut dengan “lapangan” yang asing. Tuhan tidak hanya bekerja di masa lalu; Ia sedang aktif menggerakkan sejarah manusia di garis waktu saat ini. Dan itu termasuk hidupmu.
Lalu bagaimana memulainya?
Pertama, berhenti melawan proses. Ketika kita melawan, kita hanya memperpanjang masa belajar. Duduk dan mengamati bukan berarti pasif; itu latihan untuk mempercayai bahwa Tuhan sedang mengatur ulang posisi kita. Lihat tangan-Nya yang sedang mengarahkanmu di tengah perubahan, supaya hatimu menjadi lebih tenang dan tidak mudah panik.
Kedua, mulai dengan hal kecil. Bantu tim, belajar aturan baru, dengarkan arahan-Nya. Tim di sini bukan sekadar rekan kerja atau komunitas, tapi orang-orang yang sedang berproses bersama kita, manusia-manusia yang kadang menggesek, menguji, bahkan menajamkan karakter kita agar semakin siap di lapangan yang baru. Hal kecil adalah ujian kesetiaan. Dari sana, kita belajar disiplin, rendah hati, dan peka terhadap ritme baru yang Tuhan bentuk. Seperti pemain yang baru dimasukkan di babak kedua, kamu tak langsung jadi bintang, tapi kamu punya waktu untuk menyesuaikan napas dan mengenali arah permainan sebelum akhirnya benar-benar berlari.
Ketiga, bersiaplah ketika panggilan datang. Jaga semangatmu, pelihara disiplin, dan siapkan hati. Waktu Tuhan bisa datang tiba-tiba, dan ketika itu terjadi, kamu harus sudah siap berdiri dan berlari ke lapangan.
Bangku cadangan bukan akhir. Ia hanya babak transisi menuju permainan yang lebih matang. Tuhan tidak pernah menaruhmu di sana untuk menghukummu, tapi untuk mempersiapkanmu. Dan ketika waktunya tiba, kamu akan tahu: setiap masa menunggu, setiap perubahan lapangan, semuanya bagian dari strategi besar-Nya.
Maka, mainlah dengan iman. Bukan karena kamu tahu hasil akhirnya, tapi karena kamu percaya siapa Pelatihmu.
Selamat berproses!
(Tulisan ini adalah kelanjutan refleksi dari tulisan sebelumnya, “Bangku Cadangan,” yang pernah kutulis 12 tahun yang lalu. Kini, babak baru dimulai.)