Catatan tentang Mendidik di Era yang Serba Cepat
Beberapa tahun terakhir saya mengamati satu hal yang mengganggu: informasi semakin mudah diakses, tetapi manusia tidak otomatis semakin bijak mengolahnya.
Teknologi membuka pintu yang sebelumnya tertutup. Pengetahuan yang dulu hanya bisa diakses segelintir orang, kini ada di genggaman siapa saja. Itu kabar baik. Tapi ada yang tidak ikut bertumbuh: kematangan dalam menyikapi semua itu.
Dari sanalah tulisan ini lahir: sebuah pertanyaan tentang peran pendidik di tengah banjir informasi ini. Ini bukan tulisan yang menolak teknologi, saya justru tertarik dengan dunia edtech (singkatan dari education technology, yaitu pemanfaatan teknologi untuk mendukung proses belajar-mengajar). Tapi saya percaya bahwa pohon yang berakar kuat tidak akan tumbang meski banjir datang. Dan itulah yang ingin saya pikirkan bersama: bagaimana mendidik agar murid bertumbuh seperti itu.
Kelas yang Berubah
Seorang guru pernah bercerita kepada saya: murid-muridnya sekarang sangat cepat. Cepat mencari jawaban. Cepat membuat ringkasan. Cepat menyusun presentasi.
Secara lahiriah, banyak peningkatan: tugas lebih rapi, referensi lebih kaya, penjelasan terdengar meyakinkan. Hasilnya tampak menggembirakan. Namun ia menyisakan pertanyaan penting: “Bagaimana memastikan mereka benar-benar memahami, bukan sekadar mampu menyusun?”
Ketika diminta menjelaskan ulang dengan kata-kata sendiri, memberi contoh, atau menjawab soal yang sedikit berbeda, barulah terlihat seberapa dalam mereka benar-benar memahami. Saya menyadari: tantangan kita bukan soal kurangnya informasi, melainkan kurangnya kematangan dalam mengolahnya.
Siapa pun Bisa Terlihat Ahli
Fenomena ini tidak hanya terjadi di kelas. Di ruang publik, siapa pun bisa terlihat seperti ahli. Di era media sosial, yang dibutuhkan hanya tampil percaya diri, bicara meyakinkan, dan kontennya viral. Dengan bantuan AI, argumen yang terdengar cerdas bisa disusun dalam hitungan menit.
Namun saya bertanya: apakah terdengar pintar berarti sungguh paham? Saya belajar membedakan dua hal: lancar berbicara bukan berarti benar-benar paham, dan sesuatu yang mengalir belum tentu berakar.
Jika kita pakai metafora pohon, yang sering kita lihat hanyalah buah, yaitu kata-kata, opini, dan reaksi cepat. Padahal buah selalu bertumbuh dari cabang keputusan, yang ditopang nilai-nilai, dan berakar pada keyakinan tertentu.
Ada seorang profesor yang banyak menulis tentang AI dan pendidikan yang menyebut AI sebagai teknologi yang memperbesar kemampuan penggunanya, baik maupun buruk. Saya setuju. Teknologi tidak mengubah siapa kita, ia hanya memperkuat apa yang sudah ada dalam diri kita.
Jika akarnya kuat, teknologi memperluas dampak kebaikan. Jika akarnya rapuh, teknologi mempercepat kekacauan.
Kebebasan yang Mahal
Kita hidup di era kebebasan informasi. Murid bisa membaca apa saja, mengikuti siapa saja, mendengar beragam pendapat. Tidak ada lagi satu suara tunggal.
Namun kebebasan sebesar ini ada harganya.
Saya tidak sedang menggeneralisasi. Banyak pendidik dan murid bertumbuh dengan sangat baik, dan itu patut diapresiasi. Tetapi cukup sering saya melihat respons-respons yang muncul terlalu cepat (seseorang marah karena potongan video tanpa tahu konteks lengkapnya, pendapatnya berubah bukan karena argumen yang lebih baik tetapi karena tekanan sosial, atau keyakinannya tentang isu besar terbentuk dari satu artikel tanpa pernah mencari sudut pandang lain).
Respons-respons itu bukan muncul tiba-tiba. Mereka tumbuh dari keyakinan yang belum pernah benar-benar dipertanyakan. Di sinilah saya mulai bertanya: apakah kita benar-benar siap hidup dalam kebebasan sebesar ini? Dan jika belum, siapa yang bertanggung jawab mempersiapkan kita?
Pendidik sebagai Pembentuk Manusia
Jawabannya, menurut saya, ada pada pendidik. Tapi bukan pendidik yang saya bayangkan dulu, yaitu penyampai ilmu. Melainkan pendidik sebagai pembentuk manusia.
Saya tahu realitasnya tidak sederhana: tekanan administrasi, target kurikulum, ritme kerja yang melelahkan. Sangat mudah menjadikan profesi ini sekadar pekerjaan.
Namun justru di tengah tekanan itu, peran membentuk manusia menjadi semakin penting. Bukan hanya membentuk murid yang tahu banyak, tetapi yang tahu bagaimana bersikap terhadap apa yang ia tahu.
Ketika seorang murid menemukan artikel yang mendukung pendapatnya, pendidik bisa saja langsung berkata, “Itu salah,” lalu melanjutkan pelajaran. Namun ada pilihan lain: membiarkan murid itu berpikir lebih jauh, bukan dengan mengoreksi jawabannya, melainkan dengan mengajukan pertanyaan seperti: mengapa kamu setuju? apa yang membuatmu yakin? bagaimana jika faktanya berbeda? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu menghasilkan jawaban yang benar hari itu, namun melatih sesuatu yang lebih penting, yaitu kebiasaan berpikir sebelum menyimpulkan.
Di zaman serba cepat, keraguan sering dianggap kelemahan. Padahal pendidik yang baik justru menjaga ruang untuk itu (ruang di mana murid boleh belum tahu, boleh masih menimbang, tanpa merasa harus segera berpihak). Ruang seperti itu tidak muncul otomatis. Ia dibangun oleh pendidik yang tidak terancam oleh pertanyaan.
Melalui cara ia mengajar, merespons perbedaan, dan memaknai kebenaran, pendidik membentuk sesuatu yang tidak selalu langsung terlihat, tetapi justru menentukan ke mana murid akan bertumbuh.
Di situlah pendidik benar-benar mendidik.
Membentuk Daya Tahan
Setiap hari ada isu baru. Setiap jam ada opini yang terdengar paling benar. Hari ini yakin A karena timeline penuh argumen A. Besok yakin B karena algoritma berubah. Lusa marah. Minggu depan lupa. Lalu siklusnya berulang.
Inilah yang terjadi ketika seseorang hidup di permukaan, bereaksi terhadap apa yang terlihat, tanpa punya pegangan yang cukup dalam untuk berhenti sejenak dan bertanya: apa yang sebenarnya saya percayai?
Di sinilah kerangka berpikir dari pelayanan YWAM menjadi relevan. Mereka mengenal konsep belief tree, sebuah kerangka untuk memahami secara lebih sistematis metafora pohon yang sudah kita bicarakan: bagaimana kehidupan batin seseorang memengaruhi perilakunya.
Strukturnya dapat dijelaskan sebagai berikut:
Soil (Tanah / Worldview) Tanah melambangkan worldview, yaitu cara dasar seseorang memandang realitas: siapa Allah, siapa manusia, apa itu kebenaran, apa tujuan hidup. Tanah ini dibentuk oleh keluarga, budaya, pendidikan, pengalaman, dan komunitas iman. Tanah menentukan jenis akar yang mungkin tumbuh dan seberapa sehat pertumbuhannya.
Roots (Akar / Belief) Akar adalah keyakinan terdalam (core beliefs) yang tertanam dalam worldview tersebut. Keyakinan ini sering kali tidak terlihat dan jarang dipertanyakan, tetapi justru menjadi sumber daya hidup pohon. Dari sinilah rasa aman, identitas, dan orientasi moral bertumbuh.
Trunk (Batang / Values & Thinking Patterns) Batang melambangkan nilai-nilai dan pola pikir yang lebih terlihat. Nilai tentang kejujuran, tanggung jawab, atau sikap terhadap otoritas bertumbuh dari akar. Batang ini menopang cabang dan menentukan arah pertumbuhan.
Branches (Cabang / Keputusan & Ekspektasi) Cabang adalah keputusan-keputusan dan ekspektasi hidup yang terbentuk dari nilai dan pola pikir seseorang. Dari sinilah arah hidup seseorang mulai terlihat: pilihan yang diambil, sikap terhadap situasi, dan harapan yang dipegang.
Fruit (Buah / Behavior & Consequences) Buah adalah perilaku nyata dan konsekuensi yang terlihat: keputusan, tindakan, kata-kata, bahkan reputasi. Inilah yang paling mudah dinilai orang lain.
Jika tanahnya miskin dan akar tidak sehat, nilai menjadi rapuh, cabang keputusan mudah bergeser, dan perilaku mengikuti arah angin. Tetapi jika worldview-nya kokoh dan akarnya dalam, nilai stabil, sikap terkendali, dan perilaku tidak mudah ditentukan oleh tekanan sesaat.
Di situlah daya tahan dibentuk. Bukan pertama-tama pada level buah, tetapi pada level akar.
Daya tahan sering disalahpahami sebagai keras kepala. Padahal keduanya sangat berbeda. Ia adalah kemampuan berhenti sebelum bereaksi, kemampuan bertanya sebelum membagikan, dan kemampuan berkata “Saya perlu waktu” sebelum mengambil posisi. Bukan karena tidak punya pendirian, melainkan karena keyakinan dan nilai yang dipegangnya tidak mudah dibentuk oleh algoritma.
Ini bukan soal menolak perubahan. Ini soal tidak kehilangan diri ketika perubahan itu datang. Dan untuk tidak kehilangan diri, seseorang perlu punya pegangan yang lebih dalam dari sekadar opini hari ini.
Dimensi yang Lebih Dalam
Dalam iman saya, perubahan sejati dimulai dari dalam. Rasul Paulus menekankan pembaruan budi (Roma 12:2), yaitu cara berpikir yang tidak serupa dengan pola dunia, tetapi diperbarui terus-menerus. Dalam bahasa belief tree, pembaruan budi menyentuh akar (belief) dan batang (nilai), lalu mengarahkan ulang cabang-cabang keputusan hidup.
Bagi saya, ini bukan sekadar istilah rohani. Pembaruan budi adalah prinsip pendidikan yang konkret: berpikir reflektif bukan impulsif, menilai berdasarkan pertimbangan yang jujur bukan arus yang paling keras, dan membiarkan hati sebagai pusat motivasi yang mengarahkan sikap dan keputusan.
Teknologi dapat membantu belajar. AI dapat merangkum materi. Platform digital memperluas akses. Tetapi tidak satu pun menggantikan pembentukan akar, dan pembentukan akar selalu melibatkan relasi: guru yang jujur ketika ia salah di depan muridnya, guru yang tenang ketika menghadapi perbedaan pendapat, guru yang adil ketika menilai murid yang tidak disukainya. Hal-hal itu menanam sesuatu yang tidak langsung terlihat, tetapi justru menentukan ke mana murid akan bertumbuh.
Penutup
Pertanyaannya sederhana: pendidikan seperti apa yang sedang kita bangun?
Apakah kita hanya sibuk memperindah yang terlihat, yakni nilai tinggi, presentasi rapi, jawaban cepat? Ataukah kita sedang dengan sabar membentuk sesuatu yang lebih dalam, yaitu murid yang keyakinannya kuat, nilai-nilainya kokoh, keputusannya terarah, dan perilakunya matang?
Jika itulah yang dijaga, teknologi tidak akan menjadi ancaman. Ia tetap alat. Murid bisa menggunakannya tanpa kehilangan akal sehat, dan pendidik bisa memanfaatkannya tanpa kehilangan sentuhan manusia.
Mungkin di tengah semua perubahan ini, panggilan pendidik justru semakin jelas: bukan sekadar mengajar materi, bukan sekadar membuat murid terlihat pintar, tetapi mendidik manusia yang berakar cukup kuat untuk tidak tumbang di tengah banjir informasi.

